PressureNews, Kota Gorontalo — Gema takbir perlawanan membubung tinggi di Bundaran Perlimaan Kota Gorontalo. Bukan tanpa alasan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi HMJ PPI, LMID, Dema F Syariah, dan PPMPB-G meninggalkan kenyamanan ruang kelas Dan Ruang Diskusi. Mereka membawa satu keresahan kolektif: Masa depan kelas pekerja yang kian suram di bawah bayang-bayang regulasi yang tidak memihak.
Aksi May Day 2026 bukan sekadar seremoni kalender. Ini adalah gugatan terhadap sistem yang memposisikan buruh hanya sebagai angka dalam statistik pertumbuhan ekonomi, bukan sebagai manusia yang berdaulat.
Lingkaran Setan Outsourcing dan Kontrak Seumur Hidup
Dalam orasinya, massa aksi menyoroti betapa sistem outsourcing (alih daya) telah berubah menjadi bentuk perbudakan modern. Mahasiswa melihat bahwa sistem ini menghapus kepastian kerja dan jaminan masa depan bagi para orang tua mereka.
Hilangnya Kepastian Kerja: Dengan sistem kontrak yang terus diperpanjang tanpa kepastian menjadi karyawan tetap, buruh dihantui rasa takut akan pemecatan (PHK) yang bisa terjadi kapan saja.
Degradasi Kesejahteraan: Pekerja outsourcing seringkali menerima upah yang dipotong oleh perusahaan penyalur, tanpa tunjangan kesehatan yang memadai, dan tanpa jaminan pensiun yang layak.
Kemiskinan Struktural: Mahasiswa menegaskan bahwa jika sistem ini terus dipelihara, maka generasi mendatang—termasuk para mahasiswa yang akan lulus—hanya akan menjadi “kuli” di negeri sendiri tanpa memiliki daya tawar.
“Buruh Adalah Orang Tua Kita”: Sebuah Sentimen Kelas
Narasi yang dibangun di Bundaran Perlimaan sangat menyentuh sisi kemanusiaan. “Buruh bukan orang lain. Mereka adalah ayah yang membiayai UKT kita, mereka adalah ibu yang membanting tulang agar kita bisa duduk di bangku kuliah,” teriak ketua Umum HMJ PPI.
Pernyataan ini adalah tamparan bagi penguasa yang seringkali mempolitisasi isu buruh demi kepentingan elektoral, namun abai ketika kebijakan seperti UU Cipta Kerja dan aturan turunannya justru menekan hak-hak dasar pekerja. Mahasiswa menuntut agar pemerintah daerah dan pusat berhenti bermain mata dengan investor yang hanya mau upah murah.
Tuntutan Inti Aksi May Day 2026:
Hapus Sistem Outsourcing: Kembalikan kepastian kerja sebagai hak dasar warga negara.
Upah Layak, Bukan Upah Murah: Menolak standarisasi upah yang tidak sesuai dengan inflasi dan biaya hidup riil di Gorontalo.
Perlindungan Kerja: Menuntut jaminan keselamatan dan kesehatan kerja yang ketat bagi seluruh sektor industri.
Stop Politisasi Buruh: Menolak segala bentuk eksploitasi isu buruh untuk kepentingan politik praktis.
Perjuangan belum usai. Dari Perlimaan Gorontalo, mahasiswa telah menyalakan api. Jika ruang kelas tak lagi mampu memberikan jawaban atas ketidakadilan, maka jalanan adalah satu-satunya universitas yang tersisa.








