PressureNews, GORONTALO – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026, gelombang keresahan menyelimuti kelas pekerja di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Gorontalo. Delapan dekade kemerdekaan Indonesia dianggap belum mampu menghadirkan kesejahteraan nyata bagi rakyat kecil. Sebaliknya, jurang ketimpangan dinilai semakin menganga lebar akibat sistem yang lebih berpihak pada pemilik modal.
Poin Utama Keresahan Buruh:
-
Upah Murah vs Kebutuhan Pokok: Kebijakan upah saat ini dianggap tidak lagi relevan dengan lonjakan biaya hidup. Buruh merasa terjebak dalam siklus kemiskinan struktural sementara beban kerja terus meningkat.
-
Kritik Tunjangan MBG: Pemerintah menuai kritik tajam karena lebih memprioritaskan kenaikan tunjangan tertentu yang dinilai hanya menguntungkan segelintir elit, di tengah jeritan buruh yang menuntut kepastian hidup.
-
Monopoli Sumber Daya Alam: Pengelolaan tambang rakyat, sengketa lahan, dan eksploitasi SDA masih didominasi oleh korporat dan investor. Prinsip “Tanah untuk Rakyat” dianggap hanya menjadi slogan kosong di tengah penggusuran dan privatisasi lahan.
Seruan Aksi Kolektif
Menyikapi kondisi tersebut, aliansi lintas sektor yang terdiri dari mahasiswa, buruh kantor, buruh bangunan, buruh tambang, petani, nelayan, hingga rakyat miskin kota di Gorontalo menyerukan Gerakan Protes Besar-besaran pada 1 Mei 2026 mendatang.
Aksi ini bertujuan untuk menjadi pelantang suara bagi mereka yang selama ini terabaikan di sudut-sudut persimpangan jalan dan di balik tembok-tembok industri.
“80 tahun kita merdeka, tapi kesejahteraan masih menjadi barang mewah bagi buruh. Kami mengundang seluruh elemen solidaritas untuk turun ke jalan. Mari kita ubah kesunyian menjadi gemuruh aspirasi. Tanah ini milik rakyat, bukan milik penguasa atau korporat!” ujar salah satu inisiator gerakan.
Agenda Tuntutan:
-
Revisi kebijakan upah yang berkeadilan dan sesuai standar hidup layak 2026.
-
Stop kriminalisasi pejuang lahan dan kembalikan hak tambang rakyat.
-
Tolak dominasi kapitalisme yang mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memikirkan kesejahteraan lokal.
-
Pemerataan kesejahteraan yang tidak hanya berpusat pada elit birokrasi.
Aksi yang akan digelar di titik-titik strategis Gorontalo ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan kesadaran kolektif untuk menuntut hak-hak dasar yang telah lama dirampas oleh kepentingan modal.








