
Gorontalo, Juni 2026 – Pidato penutup Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman di Aula IAIN Sultan Amai Gorontalo terhenti mendadak. Suara megafon membelah forum. Bukan teriakan, tapi jeritan petani Popayato Barat yang selama ini terabaikan.
Gusnar Rupu, Kabid Humas PPMPB-G, berdiri dari bangku paling belakang dan menghantam keheningan aula dengan satu pukulan suara. Megafon yang biasa dipakai aksi massa, malam itu dipaksa jadi corong petani paling ujung di Pohuwato.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya mahasiswa Gorontalo wilayah barat, izin Pak Menteri,” sapanya. Menteri Amran terkejut sejenak oleh interupsi mendadak, lalu menoleh, tersenyum, dan mempersilakan maju.
Berdiri di hadapan Menteri, Kabid Humas PPMPB-G memaparkan kondisi *lPopayato Barat, wilayah paling ujung di Kabupaten Pohuwato yang jaraknya enam jam dari Kota Gorontalo. Ia menyoroti ironi daerahnya: tanah subur tersedia, tapi sekitar lima hektare sawah warga belum tergarap optimal karena keterbatasan alat berat.
“Pak Menteri, di Popayato Barat masih ada sekitar lima hektare sawah yang belum bisa diolah maksimal karena kami kekurangan alat berat. Jarak kami yang jauh dari pusat kota membuat bantuan pertanian sering terlambat sampai. Padahal musim tanam tidak bisa menunggu. Jika olah lahan terlambat, satu musim panen bisa hilang. Kami memohon perhatian dan dukungan Bapak agar petani segera bisa mengolah lahan dan meningkatkan hasil panen demi ketahanan pangan,” tegas Kabid Humas PPMPB-G, suaranya menggema ke seluruh aula.
Tanpa jeda panjang, Menteri Amran merespons. “Saya catat. Tim saya akan koordinasi dengan dinas pertanian setempat supaya alat berat bisa segera sampai ke Popayato Barat. Petani tidak boleh menunggu terlalu lama,” ucapnya, disambut tepuk tangan peserta.
Menurut PPMPB-G, langkah Kabid Humas maju langsung ke Menteri muncul karena kondisi riil di lapangan. Wilayah Popayato Barat sebagai daerah paling barat di Pohuwato masih belum mendapat perhatian memadai dari anggota legislatif daerah. Karena itu PPMPB-G memilih membawa aspirasi petani secara konstruktif ke tingkat pusat.
“Suara petani Popayato Barat sudah didengar langsung oleh Menteri. Sekarang tugas kami mengawal sampai alat berat benar-benar turun ke sawah. PPMPB-G tidak akan berhenti sampai petani bisa bertani tanpa hambatan,” kata Kabid Humas PPMPB-G.
PPMPB-G menghimpun pelajar dan mahasiswa asal Popayato Barat yang kuliah di Gorontalo. Sejak awal berdiri, organisasi ini aktif menyalurkan aspirasi masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan pertanian sebagai tumpuan hidup warga Popayato Barat.
PPMPB-G berkomitmen terus memantau tindak lanjut Kementerian Pertanian hingga bantuan benar-benar dirasakan petani di lapangan.



