Kunjungan Presiden Prabowo ke Gorontalo Dikritik: “Hanya Seremonial di Tengah Jeritan Rakyat”

PressureNews, GORONTALO – Kedatangan Presiden Prabowo Subianto ke Provinsi Gorontalo disambut dengan gelombang kritik tajam dari kalangan aktivis mahasiswa. Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pemikiran Politik salah satu universitas di Gorontalo menilai kunjungan ini tak lebih dari sekadar pencitraan politik dan “pesta seremonial” yang gagal menyentuh substansi persoalan masyarakat di daerah.

Isu Nasional: Keberlanjutan Dinasti dan Beban Utang

Dalam keterangannya, Ketua HMJ Pemikiran Politik menyoroti kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo yang dianggap masih terjebak dalam bayang-bayang rezim sebelumnya. Ia mengkritik keras alokasi APBN yang lebih banyak tersedot untuk proyek-proyek mercusuar dibandingkan penguatan daya beli masyarakat.

“Presiden datang membawa janji-janji besar, namun secara nasional kita melihat penegakan hukum masih tebang pilih dan beban utang negara kian mencekik. Masyarakat bawah hanya diberi ‘gimmick’ makan gratis, sementara kebijakan struktural justru menguntungkan elite,” tegasnya.

Isu Lokal: Kemiskinan Ekstrem dan Tambang Ilegal

Tak hanya isu pusat, sorotan tajam juga diarahkan pada kondisi Gorontalo saat ini. Meski status sebagai provinsi termiskin kelima di Indonesia masih melekat, kunjungan presiden dianggap tidak memberikan solusi konkret bagi persoalan agraria dan karut-marut pertambangan di Gorontalo.

Beberapa poin krusial yang disampaikan meliputi:

Kegagalan Sektor Pertanian: Harga jagung yang fluktuatif dan sulitnya akses pupuk subsidi bagi petani lokal.

Isu Pertambangan: Lemahnya kontrol pemerintah terhadap tambang ilegal yang merusak lingkungan namun tidak menyejahterakan rakyat kecil.

Pengangguran Terdidik: Minimnya lapangan kerja di Gorontalo bagi lulusan sarjana baru, yang berujung pada eksodus pemuda ke luar daerah.

Tuntutan Mahasiswa

Mahasiswa mendesak agar Presiden Prabowo tidak hanya datang untuk melakukan “cek fisik” proyek, tetapi berani mengambil keputusan berani untuk mencopot pejabat daerah yang tidak mampu menurunkan angka kemiskinan di Gorontalo.

“Kami tidak butuh iring-iringan mobil mewah di jalanan Gorontalo. Yang kami butuhkan adalah kehadiran negara dalam menekan harga bahan pokok dan kepastian lahan bagi petani. Jika hanya datang untuk berfoto, lebih baik Presiden fokus bekerja di Jakarta,” pungkas Ketua HMJ tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *