AKPERSI Gorontalo dan Rakyat Penambang Pohuwato Gelar Aksi di Depan PGP, Yang Kami Tuntut Hak Kami, Bukan Adu Kekuatan

Pressurenews, Pohuwato — Aliansi AKPERSI Gorontalo bersama rakyat penambang Pohuwato menggelar aksi demonstrasi pada Senin, 19 Januari 2026, di depan kawasan perusahaan Pani Gold Project (PGP). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi dan tuntutan masyarakat terkait persoalan pertambangan rakyat, dampak lingkungan, serta pendekatan penanganan konflik yang dinilai belum menyentuh akar masalah.

Aksi tersebut dipimpin oleh aktivis muda Gorontalo, Kevin Lapendos, yang bertindak sebagai Koordinator Lapangan sekaligus anggota AKPERSI. Dalam orasinya, Kevin menyampaikan sejumlah kritik, salah satunya terkait pernyataan Kapolda Gorontalo yang menggunakan diksi “tantang” dan “perangi” dalam menyikapi persoalan pertambangan ilegal dan konflik sosial yang terjadi di Pohuwato.

Kevin menilai penggunaan dua kata tersebut justru berpotensi memperbesar kegaduhan di tengah masyarakat. Menurutnya, dalam situasi yang sudah sensitif, aparat negara seharusnya lebih bijak dalam menyampaikan pernyataan kepada publik.

“Saya sangat kecewa dengan apa yang disampaikan Kapolda dan dimuat di beberapa media. Kalimat itu seharusnya bisa disederhanakan agar tidak menambah situasi semakin panas. Saya tahu Kapolda menjalankan fungsi penegakan hukum, tetapi hari ini bukan lagi soal saling menyalahkan. Yang dibutuhkan adalah solusi agar konflik tidak berkepanjangan,” tegas Kevin dalam orasinya.

Lebih lanjut, Kevin juga menyoroti narasi yang menyebut banjir di Pohuwato sepenuhnya disebabkan oleh aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Ia menilai kesimpulan tersebut terlalu tergesa-gesa dan harus didasarkan pada kajian yang jelas dan menyeluruh.

“Banjir tidak bisa serta-merta dibebankan sepenuhnya pada PETI. Dasar kajiannya harus jelas, objektif, dan transparan. Jangan segampang itu mengambil keputusan yang berdampak besar bagi kehidupan rakyat,” ujarnya.

Dalam pernyataannya, Kevin juga menanggapi secara simbolik pernyataan Kapolda yang dianggap sebagai “tantangan”. Ia menegaskan bahwa tantangan yang dimaksud bukanlah adu kekuatan atau adu eksistensi, melainkan ajakan untuk berdiskusi secara terbuka.

“Ketika Kapolda menantang kami hari ini, maka saya Kevin Lapendos menantang balik Kapolda. Tapi bukan adu fisik atau adu kekuatan, melainkan diskusi terbuka bersama rakyat dan seluruh pihak terkait untuk mencari solusi dari permasalahan ini,” kata Kevin.

Selama aksi berlangsung, situasi sempat memanas akibat pimpinan perusahaan Pani Gold Project yang tidak menemui massa aksi. Massa menolak untuk berdialog dengan perwakilan perusahaan dan mendesak agar pimpinan perusahaan, dalam hal ini Boyke, hadir langsung menemui mereka. Massa juga meminta agar dialog dilakukan di dalam kawasan perusahaan atau di area pioner.

Meski demikian, ketegangan tersebut berhasil dikendalikan oleh Jenderal Lapangan dan Koordinator Lapangan. Kevin Lapendos sendiri beberapa kali melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan agar tuntutan massa segera dikonfirmasi kepada pimpinan PGP.

Menutup orasinya, Kevin menegaskan bahwa aksi tersebut bukanlah akhir dari perjuangan. Ia menekankan bahwa gerakan yang dilakukan bukan bentuk perlawanan adu kekuatan, melainkan upaya kolektif untuk memperjuangkan hak-hak rakyat yang dinilai telah dirampas.

“Hari ini bukan akhir dari perjuangan. Ini bukan perlawanan adu kekuatan, tetapi perjuangan untuk mengambil kembali hak rakyat yang dirampas,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *