PRESSURE NEWS.COM GORONTALO — Jefri Taha alias Bang Yoker akhirnya buka suara mengenai kronologi insiden yang melibatkan dirinya dengan sejumlah pihak di Rumah Sakit Siti Khadijah Gorontalo.
Menurut Jefri, peristiwa tersebut bermula dari permintaan bantuan keluarga seorang pasien anak berusia 8 tahun yang sedang sakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan.
Jefri tidak membantah dirinya sempat terpancing emosi, meninggikan suara hingga membentak saat berada di rumah sakit. Namun ia mengatakan, kejadian itu memiliki rangkaian peristiwa sebelumnya yang perlu diketahui publik agar persoalan tidak hanya dilihat dari saat dirinya sedang emosi (Selasa/15/09/2026)
Peristiwa bermula pada Jumat malam, 11 September 2026, sekitar pukul 21.35 WITA. Seorang ibu membawa anaknya yang berusia 8 tahun ke RS Siti Khadijah karena mengalami demam tinggi.
Anak tersebut sebelumnya pernah menjalani perawatan di rumah sakit yang sama dan, menurut keterangan keluarga, baru keluar sekitar dua minggu sebelumnya.
Setibanya di rumah sakit, pasien mendapatkan pemeriksaan awal berupa penimbangan berat badan dan pengecekan suhu tubuh.
Setelah pemeriksaan awal, menurut keluarga, mereka mendapatkan penjelasan bahwa anak tersebut belum dapat kembali menjalani rawat inap karena belum melewati waktu 30 hari sejak terakhir keluar dari rumah sakit.
Keluarga kemudian diarahkan untuk mencari pelayanan kesehatan di fasilitas lain, di antaranya Bio Klinik maupun Rumah Sakit Multazam.
Persoalan kemudian muncul ketika keluarga mengaku tidak memiliki biaya untuk menyewa kendaraan guna membawa anak mereka menuju fasilitas kesehatan lain.
Sementara menurut keterangan keluarga yang diterima Jefri, kondisi anak saat itu mengalami demam, muntah-muntah dan sesak napas.
Dalam kondisi tersebut, keluarga berharap mendapatkan solusi. Apabila pasien memang belum dapat menjalani rawat inap di RS Siti Khadijah, keluarga berharap setidaknya memperoleh bantuan agar anak mereka dapat dibawa menuju fasilitas kesehatan lain, termasuk menggunakan ambulans apabila memungkinkan.
Karena kebingungan menghadapi situasi tersebut, keluarga kemudian menghubungi Jefri dan meminta bantuannya.
Jefri pun datang ke rumah sakit.
“Saya datang bukan dari awal. Saya datang setelah keluarga menghubungi dan meminta bantuan. Mereka bilang anak sedang sakit, sementara diarahkan ke tempat lain dan mereka tidak punya biaya kendaraan untuk membawa anak tersebut,” ujar Jefri.
Setibanya di rumah sakit, Jefri kemudian berkomunikasi dengan pihak rumah sakit untuk mengetahui persoalan yang sedang dihadapi keluarga.
Menurut Jefri, awalnya komunikasi berjalan biasa. Ia mempertanyakan alasan pasien belum dapat kembali menjalani rawat inap serta solusi yang dapat diberikan apabila pasien memang harus memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan lain.
Jefri menegaskan dirinya bukan tenaga medis dan tidak bermaksud menentukan tindakan apa yang harus diberikan dokter kepada pasien.
Namun, sebagai orang yang dimintai bantuan keluarga, ia mempertanyakan jalan keluar agar anak tersebut tetap memperoleh pertolongan.
“Kalau memang tidak bisa dirawat di situ, saya mempertanyakan apa solusinya. Keluarga tidak punya kendaraan, sementara anak sedang sakit. Itu yang saya persoalkan saat itu, bagaimana anak ini tetap mendapatkan pertolongan,” katanya.
Menurut Jefri, keluarga kemudian merasa belum memperoleh jalan keluar sebagaimana yang mereka harapkan. Pada akhirnya, mereka memilih membawa anak tersebut kembali ke rumah.
Keputusan keluarga membawa pulang anak yang masih dalam kondisi sakit itulah yang menurut Jefri membuat emosinya mulai memuncak.
Jefri mengaku khawatir melihat keluarga yang sejak awal datang mencari pertolongan justru harus kembali membawa anak mereka pulang.
Ia kemudian kembali mempertanyakan persoalan tersebut kepada pihak rumah sakit.
Komunikasi yang sebelumnya berjalan biasa akhirnya berubah menjadi adu mulut. Suara mulai meninggi dan situasi menjadi panas.
Jefri mengakui dirinya terbawa emosi hingga marah dan membentak saat menyampaikan protes.
Dalam situasi tersebut kemudian terjadi ketegangan fisik yang, berdasarkan keterangan Jefri dan informasi yang dihimpun dari pihak keluarga, berkembang menjadi aksi saling dorong antara Jefri dengan sejumlah pihak di lingkungan rumah sakit.
Jefri tidak membantah dirinya terpancing emosi dalam kejadian tersebut.
“Saya akui saya emosi, saya marah dan membentak. Saya juga tidak mengatakan cara saya saat itu benar. Tetapi saya ingin orang tahu kenapa saya sampai emosi. Saya datang karena dimintai bantuan keluarga yang anaknya sedang sakit dan mereka kebingungan mencari pertolongan,” ungkapnya.
Menurut Jefri, kejadian tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak hanya dari beberapa menit ketika dirinya sedang marah.
Jefri menegaskan bahwa penjelasan kronologi tersebut bukan dimaksudkan untuk membenarkan kemarahan maupun tindakan yang dilakukannya ketika situasi memanas.
Ia mengakui bahwa menyampaikan protes dengan membentak bukan cara yang tepat.
Namun menurutnya, rangkaian kejadian yang berlangsung sebelum ketegangan terjadi juga penting diketahui publik.
“Kalau orang hanya melihat saya marah, tentu yang terlihat hanya kemarahan saya. Saya tidak membenarkan itu. Tapi sebelum saya marah, ada keluarga yang meminta bantuan karena anak mereka sakit. Itu yang menurut saya juga harus diketahui publik,” ujarnya.
Jefri mengatakan, yang dipersoalkannya saat itu bukan kewenangan dokter dalam menentukan tindakan medis, melainkan bagaimana keluarga memperoleh kepastian dan solusi ketika anak mereka membutuhkan pertolongan.
Setelah rangkaian kejadian di RS Siti Khadijah, keluarga kemudian membawa anak tersebut untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan di fasilitas kesehatan lain.
Berdasarkan keterangan keluarga, pasien selanjutnya mendapatkan penanganan di Bio Klinik dan kemudian dirujuk ke RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Terkait diagnosis medis dan tingkat kegawatan pasien setelah mendapatkan perawatan lanjutan, hal tersebut tentunya memerlukan keterangan maupun dokumen medis yang dapat diverifikasi sebelum dijadikan kesimpulan mengenai kondisi pasien.
Dari kronologi yang disampaikan Jefri dan keluarga, rangkaian peristiwa bermula ketika seorang anak berusia 8 tahun dibawa ke rumah sakit karena sakit, mendapatkan pemeriksaan awal, kemudian keluarga mengaku memperoleh penjelasan mengenai batas waktu 30 hari dan diarahkan mencari fasilitas kesehatan lain.
Keterbatasan transportasi membuat keluarga meminta bantuan Jefri. Jefri kemudian datang mempertanyakan solusi bagi pasien hingga komunikasi dengan pihak rumah sakit memanas dan berujung pada insiden.
Namun, kronologi tersebut merupakan penjelasan dari sisi Jefri dan keluarga pasien.
Karena itu, pihak RS Siti Khadijah Gorontalo perlu mendapatkan ruang yang sama untuk menjelaskan kondisi pasien ketika pertama kali tiba, tindakan medis yang telah diberikan, konteks sebenarnya mengenai informasi “30 hari”, alasan pasien diarahkan mencari fasilitas kesehatan lain, serta kronologi ketegangan dengan Jefri dari sudut pandang rumah sakit.
Pemberitaan ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan adanya pembiaran, malapraktik ataupun pelanggaran yang dilakukan RS Siti Khadijah maupun tenaga medis tertentu.
Demikian pula penjelasan mengenai latar belakang kejadian tidak dimaksudkan untuk membenarkan tindakan Jefri ketika marah atau membentak pihak rumah sakit.
Berita ini memuat kronologi berdasarkan keterangan Jefri Taha dan keluarga pasien untuk memberikan gambaran mengenai rangkaian peristiwa sebelum terjadinya insiden.
Pihak RS Siti Khadijah Gorontalo diberikan ruang hak jawab, koreksi dan klarifikasi atas seluruh keterangan tersebut agar masyarakat memperoleh informasi secara utuh dan berimbang.
Identitas pasien anak tidak ditampilkan secara lengkap sebagai bentuk perlindungan terhadap privasi anak.








