PressureNews, POHUWATO – Ketegangan kembali pecah di wilayah pertambangan Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, pada Senin (23/03/2026). Konflik lama antara penambang lokal dan pihak perusahaan memasuki babak baru setelah akses jalan yang selama ini digunakan warga diduga direbut paksa oleh pihak korporasi.
Kronologi Penutupan Akses
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa pihak perusahaan mulai menutup dan menguasai jalur-jalur vital yang menjadi akses utama para penambang rakyat. Tindakan ini dinilai sebagai langkah sepihak yang mencekik ekonomi masyarakat lokal yang menggantungkan hidup dari hasil bumi di tanah kelahiran mereka sendiri.
Kekecewaan Terhadap Pemerintah
Para penambang merasa ditinggalkan oleh pemerintah daerah. Sikap diamnya pemangku kebijakan memicu tudingan bahwa pemerintah lebih memprioritaskan keamanan investasi asing/besar dibandingkan keselamatan dan kedaulatan rakyatnya.
“Kami sudah menemui jalan buntu. Pemerintah seolah tutup mata dan lebih takut kehilangan investor daripada melihat rakyatnya menderita akibat perbuatan perusahaan yang tidak manusiawi,” ujar salah satu perwakilan massa.
Seruan Perlawanan dan Persatuan
Merespons situasi yang kian terdesak, muncul seruan kuat bagi seluruh penambang di Pohuwato untuk bersatu. Narasi “Lawan” mulai menggema sebagai bentuk pertahanan terakhir atas martabat dan hak atas tanah yang mereka injak.
“Tidak ada lagi kata maaf bagi mereka yang menginjak harga diri kita. Kita adalah tuan rumah di tanah ini, bukan penonton yang bisa diusir begitu saja,” tegas poin dalam seruan aksi tersebut.
Kondisi Terkini
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Kecamatan Buntulia masih terpantau tegang. Belum ada pernyataan resmi dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah terkait sengketa akses jalan tersebut. Masyarakat diimbau untuk tetap merapatkan barisan dalam memperjuangkan kedaulatan rakyat yang kian terancam.








