Pohuwato – Pelaksanaan Apel Hari Desa Nasional yang digelar di depan Kantor Bupati Pohuwato justru menuai sorotan tajam. Alih-alih menjadi momentum memperkuat semangat pengabdian aparatur desa, kegiatan tersebut dinilai ternodai oleh rendahnya tingkat kedisiplinan sejumlah aparat desa. kamis 15/01/2026
Pantauan di lokasi kegiatan menunjukkan, saat apel yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Pohuwato berlangsung, puluhan aparat desa datang tidak tepat waktu. Padahal, jadwal pelaksanaan apel telah disampaikan secara tertulis jauh hari sebelum kegiatan dilaksanakan.
Kondisi tersebut memantik kritik dari kalangan aktivis Gorontalo. Mereka menilai sikap tidak disiplin itu mencerminkan lemahnya komitmen aparatur desa dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat.
“Jika dalam agenda resmi pemerintah saja tidak mampu disiplin, lalu bagaimana masyarakat bisa berharap pelayanan maksimal dari pemerintah desa?” ujar Aktivis Gorontalo, Frens Mahabu, dengan nada tegas.
Frens mendesak Bupati Pohuwato melalui instansi terkait, khususnya KPMDes, agar memberikan perhatian serius terhadap persoalan kedisiplinan aparatur desa. Ia menilai, sikap abai tersebut bukan hanya mencederai nilai-nilai pelayanan publik, tetapi juga mencoreng wibawa Pemerintah Daerah Kabupaten Pohuwato.
“Gaji yang mereka terima setiap bulan bersumber dari pajak dan kerja keras masyarakat. Maka disiplin adalah kewajiban, bukan pilihan,” tegasnya.
Ia bahkan menyinggung soal kepatuhan terhadap pimpinan daerah. Menurutnya, jika instruksi kepala daerah saja diabaikan, maka pelayanan terhadap masyarakat berpotensi lebih buruk.
“Perintah Bupati saja diabaikan, apalagi torang masyarakat kalau membutuhkan pelayanan,” katanya.
Ironisnya, selain persoalan keterlambatan, sejumlah aparat desa juga terpantau tidak berada di barisan apel. Mereka memilih berteduh di tempat yang nyaman, sementara peserta apel lainnya tetap berdiri rapi di bawah terik matahari.
Sikap tersebut dinilai mencerminkan minimnya rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap agenda resmi pemerintah.
“Jangan menjadi contoh yang tidak baik di mata masyarakat,” tutup Frens Mahabu.
Peristiwa ini menjadi catatan penting bagi Pemerintah Daerah Pohuwato untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan kedisiplinan aparatur desa, agar semangat Hari Desa Nasional tidak sekadar menjadi seremonial tanpa makna.








