
GORONTALO — Penyelenggaraan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 di Kabupaten Gorontalo diwarnai kegaduhan. Publik dan warganet dihebohkan oleh beredarnya atribut promosi resmi berupa baliho yang dinilai cacat desain. Atribut yang memajang wajah jajaran pejabat daerah tersebut menuai kritik tajam karena menampilkan visual yang tidak logis, salah satunya gambar seorang nelayan yang memegang ikan berekor ganda atau memiliki ekor di kedua ujung tubuhnya.
Kondisi ini memicu respons keras dari berbagai elemen, termasuk kalangan mahasiswa dan aktivis. Ilham A. Uno, perwakilan pemuda daerah, angkat bicara menanggapi polemik yang sedang ramai diperbincangkan di jagat maya tersebut. Menurut Ilham, kesalahan visual dalam ajang sekelas nasional bukan sekadar masalah estetika, melainkan menyangkut marwah dan harga diri daerah yang bertindak sebagai tuan rumah.
“PENAS XVII ini adalah ajang akbar yang menelan anggaran negara tidak sedikit. Sungguh ironis jika semangat kita sebagai tuan rumah harus diwakili oleh baliho yang kurang effort dan terkesan asal jadi. Ini jelas mempertaruhkan gengsi Gorontalo di mata para delegasi dari seluruh Indonesia,” ujar Ilham saat dimintai keterangan, Senin (22/6).
Lebih lanjut, Ilham menyoroti indikasi kuat penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dilakukan secara instan oleh pihak panitia atau vendor tanpa adanya proses penyuntingan akhir (quality control) yang ketat. Selain keanehan pada anatomi ikan, manipulasi visual pada wajah objek manusia di dalam baliho tersebut juga tampak seragam dan tidak natural—ciri khas yang kerap ditemukan pada gambar hasil generatif AI yang belum disempurnakan.
Ia menilai fenomena ini sebagai bentuk pengabaian terhadap potensi lokal, mengingat Provinsi Gorontalo memiliki banyak desainer grafis dan pekerja kreatif yang berkompeten.
“Kelalaian ini juga terasa menyakitkan bagi industri kreatif lokal. Seolah-olah panitia mengabaikan bakat para desainer grafis Gorontalo yang sebenarnya jauh lebih mampu membuat karya rapi dan berkualitas tanpa kesalahan anatomi yang menggelikan seperti itu,” tambah Ilham.
Merespons kegaduhan yang terjadi, Ilham bersama Aliansi Masyarakat Kreatif menyampaikan empat tuntutan tegas kepada pihak penyelenggara dan pemerintah daerah:
Desakan Klarifikasi Terbuka: Menuntut pihak panitia pelaksana dan pemerintah daerah untuk segera memberikan klarifikasi resmi mengenai asal-usul, proses pembuatan, hingga lolosnya desain baliho bermasalah tersebut ke ruang publik.
Penurunan Atribut Bermasalah: Mendesak panitia untuk segera menurunkan baliho cacat desain tersebut dan menggantinya dengan materi promosi yang lebih profesional demi menjaga citra daerah.
Evaluasi Kinerja Vendor: Meminta pertanggungjawaban terbuka mengenai proses pengadaan materi promosi dan mendesak evaluasi menyeluruh terhadap pihak ketiga (vendor) yang ditunjuk.
Pemberdayaan Pemuda Kreatif Lokal: Menuntut pemerintah daerah dan panitia untuk lebih memprioritaskan keterlibatan pekerja kreatif lokal dalam agenda-agenda strategis di masa mendatang.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan warganet masih terus memantau respons serta langkah konkret dari Panitia Pelaksana PENAS XVII Gorontalo terkait desakan klarifikasi dan rencana penggantian baliho-baliho bermasalah tersebut guna menyelamatkan citra provinsi di hadapan para tamu nasional.




