Pohuwato – Dunia pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi kebebasan berpikir justru kembali tercoreng. Nasib pahit menimpa Hitler Simanungkalit, mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Pohuwato (UNIPO), yang baru saja menapaki gerbang kampus namun langsung ditendang keluar alias Drop Out (DO).
Ironisnya, keputusan ini muncul tak lama setelah Hitler menulis berita pedas soal dugaan gaji dosen UNIPO yang sudah enam bulan tak kunjung dibayar. Tulisan itu sontak jadi sorotan publik, tapi juga tampaknya memicu “panas telinga” pihak kampus. Rabu (27/08)
Tak berselang lama, Hitler dipanggil bukan ke ruang akademik, melainkan diam-diam diajak bertemu di luar kampus oleh Dekan Fakultas Hukum, Irwan, SH., MH. Dari situlah, Hitler menduga skenario penendangan dirinya mulai berjalan. “Katanya ini perintah atasan. Sudah keputusan,” ujar Hitler mengulang pesan sang dekan.
Langkah UNIPO ini bak tamparan keras bagi dunia akademik. Bukannya menjadi ruang kebebasan berpikir, kampus justru terkesan berubah menjadi ruang pembungkaman. Hitler menilai sikap UNIPO sangat mencederai prinsip demokrasi dan kebebasan pers yang seharusnya dipelihara di lembaga pendidikan tinggi.
Lebih miris lagi, uang Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SSP) yang sudah dibayarkannya memang dikembalikan, tetapi hal itu jelas tidak menutup luka batin karena hak belajarnya dirampas begitu saja.
Hingga berita ini tayang, pihak Rektorat UNIPO termasuk Rektor Grety Saleh masih memilih diam seribu bahasa. Publik kini menunggu: apakah kampus akan terus bersembunyi di balik kebisuannya, atau berani terbuka menjelaskan alasan sebenarnya di balik pemecatan mahasiswa yang juga jurnalis muda ini?








