Satu Nyawa Melayang di PETI Paku Selatan, Bukti Lemahnya Pengamanan Polres Bolmut

PressureNews, BOLMUT [04/02/2026] – Belum usai polemik dugaan peredaran narkoba di wilayah Pertambangan Tanpa Izin (PETI), Desa Paku Selatan, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) kembali diguncang insiden berdarah. Seorang penambang berinisial C-W, warga setempat, ditemukan tewas mengenaskan pada Rabu (04/02/2026) pukul 23:00.

Kronologi Kejadian
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat korban sedang berada di dalam kamar tidur bersama istrinya di lokasi tambang. Meski sempat beredar isu bunuh diri, para saksi di lokasi meragukan spekulasi tersebut setelah melihat kondisi fisik korban.

“Korban dievakuasi sekitar pukul 00.30 WITA. Ada luka tusuk di bagian belakang. Kalau dilihat dari letak lukanya, sangat tidak mungkin itu karena bunuh diri,” ujar salah satu pekerja tambang yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Di sekitar lokasi kejadian, seorang penambang lain berinisial L-S dilaporkan menemukan satu buah senjata tajam (sajam). Sebelum insiden maut terjadi, sempat terdengar kabar adanya cekcok rumah tangga, namun dugaan kuat mengarah pada pengaruh minuman keras (miras) yang dikonsumsi sebelum kejadian.

Korban Dikenal Sosok Pendiam
Kepergian C-W menyisakan duka bagi rekan-rekannya. Di mata sesama penambang, korban dikenal sebagai pribadi yang santun dan tidak banyak tingkah. “C-W itu anak baik, pendiam. Dia jarang bicara kalau tidak diajak bicara duluan. Di lokasi tambang, dia juga dikenal sebagai orang yang sangat merawat diri,” kenang rekan korban.

Rapor Merah Pengawasan Aparat
Insiden ini memicu kritik tajam terhadap kinerja penegak hukum di wilayah hukum Polres Bolmut (Boltara). Masifnya penjualan miras secara bebas di area PETI Paku Selatan dinilai menjadi pemicu utama tindak kriminalitas yang berujung hilangnya nyawa.

Kondisi ini dianggap sebagai kegagalan beruntun setelah sebelumnya lokasi yang sama diterpa isu peredaran narkoba dan penggunaan bahan kimia berbahaya (sianida).

“Ini membuktikan buruknya pengawasan Polres terhadap PETI Paku Selatan. Pihak kepolisian seharusnya menjadi ujung tombak pengamanan, tapi faktanya banyak kecolongan. Kejadian ini adalah rapor merah. Jika PETI Paku Selatan tidak segera ditertibkan, akan lebih banyak nyawa yang melayang,” tegas sergio pengamat sosial setempat.

Hingga berita ini diturunkan, motif pasti kejadian masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Pihak keluarga dan masyarakat masih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait status hukum kasus ini—apakah murni pembunuhan atau ada unsur lain.

Penerbit:GusnarR.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *