PressureNews – Pohuwato
Ada haru yang tak terlihat, tetapi terasa kuat ketika Koordinator Normalisasi, Rein Suleman, menyerahkan Dana Pemberdayaan Masyarakat kepada masing-masing tim di empat desa terdampak banjir, yakni Bulangita, Teratai, Palopo, dan Pohuwato Timur.
Bantuan ini bukan sekadar angka atau berkas administrasi—ini adalah bentuk kepedulian yang lahir dari hati para penambang rakyat yang ingin turut meringankan beban sesama. Selasa(25/11/2025)
Banjir yang melanda beberapa waktu lalu, akibat aktivitas tambang rakyat, menyisakan luka untuk banyak keluarga. Namun di balik luka itu, hadir tangan-tangan yang masih ingin menggenggam erat mereka yang sedang terpuruk. Dana pemberdayaan ini menjadi bukti bahwa masih ada solidaritas yang tak pernah padam.
Menurut Rein Suleman, bantuan ini merupakan hasil swadaya penambang yang tersentuh oleh kondisi masyarakat.
“Teman-teman penambang sepakat untuk tidak tinggal diam. Mereka ingin menunjukkan bahwa meskipun kami bagian dari aktivitas tambang, kami juga bagian dari masyarakat yang peduli,” ungkap Rein penuh haru.
Total dana tersebut dialokasikan dengan pembagian yang telah disepakati bersama: 30% untuk Desa Bulangita, 30% untuk Teratai, 15% untuk Palopo, dan 15% untuk Pohuwato Timur.
Setiap desa telah membentuk tim khusus untuk memastikan bantuan ini benar-benar menyentuh kebutuhan paling mendesak warganya.
Di Bulangita, misalnya, dana ini diarahkan untuk perbaikan masjid—sebuah tempat yang bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga tempat masyarakat mengadu dan mencari ketenangan saat duka datang. Di Teratai, tim memfokuskan bantuan pada penyediaan sembako bagi keluarga yang paling merasakan dampak banjir. Desa lainnya pun menyesuaikan dengan kondisi warganya.
Salah satu penerima manfaat, Siti Rahma, warga Desa Teratai, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
“Kami masih terpukul dengan banjir kemarin… tapi bantuan ini seperti menguatkan hati kami kembali. Terima kasih untuk semua yang peduli. Berat rasanya kalau harus hadapi semuanya sendiri,” ucapnya lirih, menahan air mata.
Penyerahan dana ini tidak hanya menjadi bentuk tanggung jawab sosial, tapi juga menjadi pengingat bahwa ketika alam memberi ujian, manusia seharusnya saling menggenggam, bukan saling meninggalkan.
Di tengah derasnya hujan dan derasnya tantangan hidup, masih ada kehangatan yang mengalir dari perhatian sesama.
Dan hari ini, kehangatan itu bernama kepedulian.








