Harga Emas Anjlok di Tengah Ramadhan, Toko Emas di Pohuwato Tutup Sementara

Pohuwato Pressure News. Com. – Fenomena anjloknya harga emas di pertengahan bulan suci Ramadhan mulai dirasakan langsung oleh para pelaku usaha jual beli emas di Kabupaten Pohuwato. Kondisi ini bahkan membuat sejumlah pembeli emas memilih menutup sementara tokonya karena sepinya transaksi dan minimnya minat beli dari masyarakat.

Menjelang Idulfitri, kebutuhan ekonomi masyarakat Pohuwato justru meningkat tajam. Aktivitas usaha, termasuk sektor pertambangan rakyat yang selama ini menjadi salah satu sumber perputaran ekonomi lokal, diharapkan mampu menopang kebutuhan warga. Namun kenyataannya, pasar emas justru menunjukkan gejala lesu. Sabtu (28/02/2026)

Para pedagang mengaku pembelian emas saat ini sangat terbatas. Jika pun ada transaksi, rata-rata hanya dalam jumlah kecil, sekitar 1 hingga 2 gram. Bahkan tidak sedikit pembeli yang memilih tidak melakukan transaksi sama sekali, hingga akhirnya menutup sementara usaha jual beli emas mereka.
Fenomena ini menjadi kontras jika dibandingkan dengan data nasional.

Berdasarkan informasi terkini per akhir Februari 2026, harga emas secara nasional justru berada dalam tren tinggi, bahkan menembus angka di atas Rp3 juta per gram. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat:

mengapa di daerah justru terjadi penurunan drastis minat beli dan aktivitas perdagangan emas?

Situasi tersebut mendapat sorotan dari Aktivis Gorontalo, Frensi Mahabu. Ia menilai bahwa persoalan ini tidak semata soal harga, tetapi juga menyangkut daya beli masyarakat, distribusi ekonomi, serta ketidakpastian pasar lokal.

“Kalau harga emas nasional sedang tinggi, tapi di daerah justru lesu, ini menandakan ada masalah pada daya beli masyarakat dan perputaran ekonomi lokal. Apalagi menjelang Lebaran, kebutuhan masyarakat meningkat, namun sektor-sektor ekonomi rakyat belum mampu menopang itu,” ujar Frensi.

Ia juga menekankan perlunya perhatian serius dari pemerintah daerah terhadap stabilitas ekonomi masyarakat, khususnya sektor usaha kecil dan perdagangan rakyat, agar tidak terus terdampak oleh ketimpangan antara kondisi nasional dan realitas ekonomi lokal.

Fenomena ini menjadi sinyal penting bahwa menjelang Lebaran, masyarakat Pohuwato tidak hanya menghadapi tekanan kebutuhan ekonomi, tetapi juga ketidakpastian pasar, yang berpotensi berdampak luas pada sektor perdagangan dan kesejahteraan warga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *