Krisis Jiwa Kepemilikan: Ketika Organisasi Pemuda Hari Ini Hanya Diisi Nama Tanpa Nyawa

{"source_type":"vicut","data":{"client_key":"aw889s25wozf8s7e","source_type":"vicut","source_platform":"mobile_2","appVersion":"17.6.0","enterFrom":"new_image","os":"android","product":"vicut","editType":"image_edit","region":"ID","picture_id":"NO7YHOGV-ZET8-A27L-FDU7-EX5XSMSWXADG","pictureId":"NO7YHOGV-ZET8-A27L-FDU7-EX5XSMSWXADG","capability_name":"capcut_photo_editor,capcut_image_enhance"},"tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"client_key":"aw889s25wozf8s7e","source_type":"vicut","source_platform":"mobile_2","appVersion":"17.6.0","enterFrom":"new_image","os":"android","product":"vicut","editType":"image_edit","region":"ID","picture_id":"NO7YHOGV-ZET8-A27L-FDU7-EX5XSMSWXADG","pictureId":"NO7YHOGV-ZET8-A27L-FDU7-EX5XSMSWXADG","capability_name":"capcut_photo_editor,capcut_image_enhance"}"}

PressureNews, Opini — Ada sebuah tren yang menggelisahkan di balik riuh rendahnya ruang digital anak muda hari ini. Kita melihat generasi yang begitu vokal di media sosial, mahir merancang estetika visual, dan fasih membicarakan isu-isu global. Namun, ketika ditarik ke dalam realitas ruang sidang, sekretariat, atau forum komunitas, kita justru disuguhi pemandangan yang kontras: kursi-kursi kosong dan presensi yang sekadar nama.

Organisasi hari ini sedang menghadapi krisis akut yang bernama apatisme struktural dan minimnya sense of belonging (jiwa kepemilikan) dari para anggotanya.

Organisasi Bukan Hotel, Anda Bukan Tamu
Banyak pemuda hari ini memperlakukan organisasi layaknya hotel atau kamar sewaan. Mereka mendaftar, membayar iuran (itu pun jika ditagih dengan keras), lalu masuk hanya untuk menuntut fasilitas.

“Apa yang bisa organisasi berikan untuk portofolio saya?”

“Apakah ini bisa menambah nilai di LinkedIn saya?”

“Apa keuntungan instan yang saya dapatkan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak salah, namun jika itu menjadi satu-satunya kompas, maka organisasi telah bergeser fungsi dari wadah perjuangan menjadi sekadar agen penyedia sertifikat.

Ketika organisasi dilanda masalah, kekurangan dana, atau membutuhkan tenaga ekstra untuk kerja-kerja akar rumput, para “penyewa kamar” ini memilih untuk keluar (atau menghilang tanpa kabar), lalu mencari “hotel” lain yang lebih mapan. Mereka enggan ikut membersihkan lantai, memperbaiki atap yang bocor, atau memikirkan bagaimana cara agar organisasi ini tetap hidup. Mereka hanya ingin menikmati fasilitasnya.

Mentalitas “Kerja Komersial” di Ruang Sosial
Salah satu akar masalah dari minimnya jiwa kepemilikan ini adalah komersialisasi pola pikir. Pemuda zaman sekarang tumbuh di era di mana segala sesuatu diukur dengan insentif instan—entah itu likes, eksposur, atau uang.

Ketika masuk ke dunia organisasi yang menuntut kerja sukarela, pengorbanan waktu, dan adu argumen yang melelahkan, mereka gagap. Mereka tidak siap menghadapi kenyataan bahwa membangun sebuah pergerakan atau mempertahankan eksistensi organisasi memerlukan “darah dan air mata” yang tidak ada kompensasi finansialnya.

Akibatnya, muncullah sikap apatis. Mereka hadir saat pelantikan karena ada sesi foto bersama, lalu mendadak menjadi “manusia paling sibuk sedunia” saat rapat kerja dimulai.

Kritik Terbuka: Kita sering mengkritik pemerintah yang korup dan tidak acuh, namun di skala kecil—dalam organisasi mahasiswa atau komunitas lokal—kita justru mempraktikkan mentalitas yang sama: lepas tanggung jawab, acuh tak acuh, dan hanya mau tahu hasil bersih.

Dampak Fatal: Matinya Regenerasi Kepemimpinan

Jika tren “asing di rumah sendiri” ini terus berlanjut, dampaknya tidak main-main. Kita akan melihat matinya regenerasi kepemimpinan yang sehat. Organisasi akhirnya hanya digerakkan oleh segelintir orang yang kelelahan (burnout), sementara mayoritas anggota lainnya bertindak sebagai penonton yang siap mengkritik dari balik layar ponsel mereka.

Komunitas dan organisasi didirikan atas dasar kolektivitas, bukan individualisme. Jiwa kepemilikan berarti Anda merasa sakit ketika organisasi itu berjalan pincang, dan Anda merasa bertanggung jawab untuk memikirkan solusinya, bukan justru menjadi bagian dari masalah dengan cara angkat kaki.

Saatnya Pulang dan Memiliki

Menjadi kritis di media sosial adalah satu hal, tetapi merawat ruang hidup bersama di dunia nyata adalah hal lain. Pemuda hari ini harus sadar bahwa organisasi bukanlah tempat untuk sekadar “singgah” demi mempercantik CV.

Jika kita terus-menerus apatis dan enggan memiliki, jangan heran jika di masa depan, ruang-ruang publik dan kebijakan-kebijakan penting di negeri ini akan diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten. Karena sejak muda, kita sudah terbiasa menjadi penonton yang pasif.

Sudah saatnya pemuda hari ini pulang ke organisasinya. Bukan sebagai tamu yang minta dilayani, melainkan sebagai pemilik rumah yang siap berbenah, sekotor apa pun kondisinya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *