PETI KM 18 Popayato Kian Mengkhawatirkan, Aktivis Ungkap Dugaan Keterlibatan Oknum Aparat dan Pejabat

Popayato – Pressure news.Com.
Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah KM 18, Popayato Grup, Kabupaten Pohuwato, terus menjadi perhatian publik. Situasi di lapangan semakin memanas seiring dengan meningkatnya konflik serta ketegangan antara berbagai pihak yang berkepentingan di area tambang ilegal tersebut. Minggu 06/07/2025

Wawan, aktivis lingkungan yang juga merupakan putra daerah Popayato, kembali bersuara lantang. Ia menyatakan bahwa praktik PETI di wilayahnya sudah dalam tahap darurat. Selain menyebabkan kerusakan lingkungan yang masif, pencemaran air dan tanah, aktivitas ini juga telah memunculkan keresahan sosial di tengah masyarakat.

“Saya terus mengadvokasi masalah ini dan sudah mendengar langsung banyak keluhan dari warga. Kerusakan terjadi di mana-mana, tapi tidak ada tindakan tegas dari pihak berwenang,” ujarnya.

Yang lebih mengejutkan, Wawan membeberkan adanya dugaan keterlibatan sejumlah oknum dalam melanggengkan aktivitas PETI tersebut. Ia menyebut dua inisial oknum polisi, FA dan D, yang diduga kuat ikut membekingi aktivitas tambang ilegal. Tak hanya itu, ia juga menyoroti lemahnya tindakan dari Kapolsek Popayato Barat, yang menurutnya justru terkesan membiarkan.

“Ini bukan sekadar soal tambang liar. Ini sudah menjadi persoalan sistemik. Bahkan, kami menduga ada keterlibatan kepala desa dan anggota DPRD yang ikut bermain,” tegas Wawan.

Ia pun menyoroti lambannya respons dari Ditkrimsus Polda Gorontalo, yang dinilai tidak maksimal dalam menangani laporan masyarakat. Menurutnya, penegakan hukum terhadap PETI tidak akan pernah berhasil jika aparat penegak hukum justru terlibat atau melakukan pembiaran.

Sebagai bentuk perlawanan, Wawan bersama Aliansi Mahasiswa Popayato berencana kembali turun ke jalan. Mereka akan menggelar aksi demonstrasi jilid tiga di depan Mako Polda Gorontalo pada Rabu mendatang. Aksi tersebut merupakan lanjutan dari dua aksi sebelumnya yang menuntut penertiban PETI dan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

“Kami tidak takut dengan tekanan atau ancaman. Kami akan terus menyuarakan ini demi masyarakat dan lingkungan kami. Ini perjuangan jangka panjang,” tutup Wawan dengan tegas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *