“Tambang Bulangita & Teratai: Dituduh Merusak, Padahal Jadi Tembok Terakhir Rakyat Bertahan!”

Pohuwato Pressure News.Com, 12 Juli 2025 – Framing licik terhadap penambang rakyat kembali memanas. Kali ini, sorotan tajam dialamatkan kepada para pelaku usaha kecil di Desa Teratai dan Bulangita, Kecamatan Marisa. Tudingan kerusakan lingkungan yang dialamatkan ke mereka justru membongkar fakta ironis: yang dituduh merusak, adalah yang justru membersihkan!

“Kami digambarkan seperti perampok alam, padahal kami yang buang lumpur dari sungai agar desa tidak tenggelam saat hujan. Lucu, sekaligus menyakitkan,” cetus salah satu penambang rakyat yang terlibat dalam aktivitas normalisasi sungai Bulangita.

Mereka tak tinggal diam. Penambang lokal mulai membongkar narasi yang selama ini dipelintir media dan elit kepentingan. Aktivitas mereka, katanya, bukan sembunyi-sembunyi—bahkan dilakukan di depan mata pemerintah desa dan kecamatan. Sayangnya, justru narasi “lampu hijau” dari pemerintah dimanipulasi seolah menjadi dalih pelanggaran.

“Kami dibina, bukan dibebaskan sembarangan. Tapi kenapa framing-nya seolah kami ini kriminal?” ucap seorang tokoh masyarakat penuh kecewa.

Ironi lainnya, perusahaan-perusahaan tambang besar yang sudah mencaplok wilayah konsesi justru beroperasi bebas, meski menyisakan utang ke masyarakat dan menggerus gunung-gunung tanpa ampun. Bukit-bukit gundul, ancaman longsor, dan banjir bandang mengintai warga, tapi spotlight justru diarahkan ke tambang rakyat yang hidup pas-pasan.

“Kalau nanti air bah turun dan lumpur datang, jangan salahkan kami. Yang bikin bencana justru perusahaan yang merobek-robek perbukitan di atas sana,” tegas seorang warga.

Lebih tragis lagi, penambang lokal bukan hanya kehilangan tempat mencari nafkah—mereka juga diusir dari tanah sendiri.

“Kami sudah terusir dari wilayah konsesi perusahaan. Saat pindah ke tempat baru, malah dicap perusak. Kami ini rakyat kecil yang cuma ingin hidup!” teriak seorang penambang dengan mata berkaca-kaca.

Padahal, tambang rakyat selama ini memberi solusi sosial: membuka lapangan kerja bagi yang tak punya ijazah, membantu biaya sekolah anak-anak, menolong yang sedang mengobati orang tua, hingga menyelamatkan mereka yang terlilit utang.

“Kami bukan minta dimanja. Kami siap dibina, diawasi, diarahkan. Tapi jangan jadikan kami kambing hitam atas bencana yang bukan sepenuhnya kami ciptakan. Kami manusia, bukan sekadar angka dalam laporan kerusakan,” tutup perwakilan penambang lokal dengan nada tegas

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *