- Oleh: [Fachrul Pohontu Ketua Komisariat FIP UNG HMI cabang gorontalo]
Dahulu, Nurcholish Madjid (Cak Nur) membawa angin segar bernama desakralisasi. Sebuah gagasan yang tampak sederhana namun mengguncang fondasi berpikir banyak orang. Ia mengajak kita memilah secara jernih antara yang ilahi dan yang duniawi, antara iman dan mitos. Baginya, menuhankan selain Tuhan bukan sekadar kekeliruan teologis, melainkan kemunduran martabat manusia—sebuah penghinaan terhadap akal budi.
Pada masa itu, organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah ruang dialektika, bukan etalase kesucian simbolik. Sebagaimana dibaca oleh Fachrul Alfajri, tradisi ini adalah gerakan rasional: tidak ada manusia suci setelah Nabi, semua gagasan boleh diuji, dan akal adalah gerbang menuju keyakinan. Generasi 1970–1980-an hidup dengan etos di mana kekuatan argumen lebih dihormati daripada posisi struktural.
Pergeseran Menuju “Liturgi Digital”
Namun, sejarah bergerak dengan ironi yang getir. Hari ini, rasionalitas kerap tergeser oleh rekomendasi; kritik digantikan oleh restu. Kesucian tidak lagi dilekatkan pada benda, melainkan pada figur. “Senior” kini bukan sekadar sosok yang dihormati, melainkan ditempatkan pada posisi yang nyaris tak tersentuh.
Kultus individu yang dulu dianggap penyakit organisasi, kini menjelma menjadi protokol tak tertulis. Kita menyaksikan transformasi ruang-ruang diskusi menjadi ruang “liturgi digital” di grup percakapan. Undangan kopi menjadi ritual inisiasi, dan foto bersama menjadi sertifikat legitimasi. Senior telah bertransformasi dari manusia biasa menjadi semacam doktrin berjalan.
Logika yang berkembang pun menjadi sangat sederhana namun mematikan nalar:
Jika Kanda benar, maka setujui.
Jika Kanda salah, tafsirkan ulang realitasnya.
Jika Kanda tersinggung, maka akal sehatlah yang wajib meminta maaf.
Tauhid dan “Iman Tambahan”
Inilah fenomena Tauhid versi terbaru: menyembah satu Tuhan, sembari menaati banyak patron. Ketika gagasan mulai kosong, relasi naik takhta. Ketika integritas melemah, akses menjadi ideologi.
Dalam ekosistem seperti ini, munculnya figur-figur seperti Bahlil Lahadalia yang mengandalkan “jalur cepat” koneksi daripada kedalaman konsepsi bukanlah sebuah penyimpangan. Mereka justru adalah produk paling jujur dari sistem yang sedang sakit ini. Para pemikir lama kini terpinggirkan; mereka tidak kalah debat, mereka hanya kalah pasar. Di era ini, pikiran dianggap lambat, sementara jalur dianggap cepat. Kritik dianggap gangguan, sementara loyalitas buta dianggap solusi.
Penutup: Spanduk vs Realitas
Ironinya, jargon “Tauhid” masih berkibar gagah di spanduk-spanduk kegiatan. Namun dalam praktik sehari-hari, yang ditaati bukan lagi prinsip, melainkan struktur. Yang ditakuti bukan lagi kesalahan moral, melainkan kehilangan akses pada kekuasaan.
Maka, perlahan tapi pasti, lahirlah keyakinan baru yang tak pernah diajarkan di kitab suci mana pun: sebuah syahadat ganda yang berbunyi iman kepada Tuhan, dan iman tambahan kepada senior. Jika ini terus dibiarkan, maka bangunan intelektual yang dulu dibangun dengan darah dan air mata pemikiran akan berubah total menjadi sekadar pusat layanan jaringan.








