Pressure News.Com POHUWATO – Curahan hati para penambang tradisional (kabilasa) di lokasi tambang emas Botudulanga, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, membuka ironi yang dinilai menyakitkan. Kelompok masyarakat kecil yang selama ini kerap disebut sebagai alasan untuk mempertahankan aktivitas pertambangan, kini justru mengaku diduga diusir dari lokasi tempat mereka mencari nafkah.
Pengakuan itu disampaikan Risman (40), warga Kecamatan Randangan, yang mengaku mengalami langsung peristiwa tersebut bersama empat rekannya pada Rabu sore, 22 Juli 2026.
Menurut Risman, saat itu mereka berlima hanya membawa peralatan sederhana berupa linggis kecil, dulang, dan karpet kecil untuk mencari butiran emas. Namun, ketika sedang mendulang, salah satu alat berat merek Sany tiba-tiba mendekati mereka.
“Kami berlima sedang mencari emas. Tiba-tiba alat berat itu datang mendekati kami. Bucket-nya diarahkan ke arah kami sampai kami panik menyelamatkan dulang dan karpet. Lumpur dan kerikil dari bucket juga mengenai kaki saya hingga terasa nyeri,” ungkap Risman.
Akibat kejadian tersebut, Risman bersama empat rekannya memilih meninggalkan lokasi tanpa membawa hasil sedikit pun untuk keluarga mereka.
“Kami pulang dengan tangan kosong. Padahal kami hanya ingin mencari makan, bukan mencuri,” katanya.
Risman menegaskan, lokasi tempat mereka mendulang saat itu bukan merupakan area yang membahayakan operasional alat berat. Karena itu, ia mempertanyakan tindakan operator yang dinilai berlebihan terhadap penambang tradisional.
Di lokasi tersebut, kata Risman, terdapat sekitar empat unit alat berat merek Sany yang sedang beroperasi. Ia menduga operator alat berat tersebut hanya menjalankan perintah dari pihak yang mengendalikan aktivitas di lokasi. Dugaan itu merupakan pernyataan narasumber dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Yang paling disesalkan Risman bukan hanya perlakuan yang mereka alami, tetapi juga karena merasa nama kabilasa selama ini hanya dijadikan alasan ketika aktivitas tambang menghadapi penertiban.
“Dulu waktu tambang mau ditutup, mereka bilang kasihan kabilasa. Katanya kalau tambang berhenti kami tidak bisa makan. Tapi sekarang tambang sudah jalan, kami malah diduga diusir. Jadi, apakah nama kabilasa hanya dipakai saat mereka butuh?” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi ironi yang mengundang pertanyaan. Benarkah masyarakat kecil hanya dijadikan tameng untuk mempertahankan aktivitas tambang, namun setelah kepentingan tercapai justru disingkirkan dari lokasi yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka?
Berdasarkan informasi yang dihimpun PressureNews.com, lokasi tambang tempat peristiwa tersebut terjadi diduga dikelola oleh Haji Suci. Namun informasi tersebut masih dalam proses penelusuran dan belum memperoleh konfirmasi dari pihak yang bersangkutan.
Sementara itu, saat PressureNews.com melakukan penelusuran ke lokasi tambang, salah seorang pengawas yang ditemui mengaku belum mengetahui adanya kejadian sebagaimana yang disampaikan para kabilasa.
“Saya sudah berhari-hari berada di lokasi ini, tapi belum pernah mendengar kejadian seperti itu,” ujarnya singkat.
Keterangan pengawas tersebut berbeda dengan pengakuan Risman yang mengaku mengalami langsung peristiwa itu bersama empat rekannya.
Hingga berita ini diterbitkan, PressureNews.com masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Haji Suci, operator alat berat merek Sany, maupun pihak-pihak terkait lainnya guna memperoleh penjelasan dan hak jawab atas pengakuan para kabilasa tersebut sesuai prinsip pemberitaan yang berimbang.








