Bone Bolango – Selasa, 5 Agustus 2025
Sejumlah aktivis pecinta lingkungan menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Polres Bone Bolango. Aksi ini digelar sebagai bentuk desakan kepada pihak kepolisian agar lebih transparan terkait insiden kecelakaan tambang yang terjadi pada 15 Februari lalu.
Koordinator lapangan aksi, Kevin Lapendos, kepada tim Presurrenwes.com menyayangkan sikap Polres Bone Bolango yang dinilai abai dalam menyampaikan informasi kepada publik. Ia menilai, meskipun peristiwa tragis di lokasi tambang tersebut telah diselesaikan secara damai antara pihak korban dan pemilik lokasi, namun publik berhak mengetahui kejelasan penanganannya.
> “Kami hanya ingin menegaskan bahwa publik perlu tahu. Jangan sampai terkesan ditutup-tutupi. Kejadian sebesar itu tidak bisa dianggap selesai hanya karena sudah damai, tanpa ada kejelasan ke masyarakat,” tegas Kevin.
Usai aksi unjuk rasa, pihak Polres Bone Bolango akhirnya menemui para aktivis dan awak media. Dalam pernyataan resminya, pihak kepolisian menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian dalam memberikan informasi kepada publik.
> “Kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh rekan media dan para aktivis. Kami lalai dalam menyampaikan pernyataan resmi kepada publik terkait tragedi 15 Februari lalu. Perlu kami tegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan murni bencana alam,” ungkap perwakilan Polres.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi klarifikasi pertama dari pihak kepolisian sejak tragedi tersebut terjadi lebih dari lima bulan lalu.
Kevin Lapendos menutup aksinya dengan harapan agar kasus serupa tidak terulang kembali di wilayah Gorontalo. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal setiap persoalan yang terjadi, baik yang sudah selesai maupun yang masih berproses.
> “Kami tidak akan tinggal diam. Kami akan terus mengawal kasus-kasus yang terjadi di Gorontalo. Transparansi adalah harga mati,” pungkas Kevin.








