Pohuwato – Ancaman sedimentasi akibat aktivitas tambang rakyat di Desa Bulangita dan Desa Teratai, Kecamatan Marisa, mulai mendapat perhatian serius dari generasi muda. Sejumlah pemuda Desa Teratai turun langsung melakukan kegiatan normalisasi untuk mencegah terjadinya banjir di wilayah mereka.Sabtu(20/09/2025)
Anwar, salah satu pemuda pemerhati lingkungan, menjadi motor penggerak aksi tersebut. Ia bersama warga setempat melakukan pemantauan sekaligus normalisasi di beberapa titik rawan banjir. Menurutnya, langkah ini penting agar dampak sedimentasi tidak semakin parah.
“Kami tidak ingin desa kami terus dilanda banjir hanya karena endapan material tambang. Normalisasi ini adalah bentuk kepedulian kami untuk menjaga lingkungan,” ungkap Anwar.
Langkah nyata pemuda ini mendapat apresiasi dari masyarakat Bulangita maupun Teratai. Bahkan, Tim YR ikut berpartisipasi dalam penanganan sedimentasi untuk mencegah banjir.
Warga berharap, upaya tersebut bisa menjadi contoh agar semua pihak lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Namun di sisi lain, aktivitas tambang di dua desa tersebut juga menjadi penopang ekonomi sebagian besar masyarakat. Bagi mereka, tambang adalah mata pencaharian utama yang cepat menghasilkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Midun, salah satu kabilasa tambang, mengungkapkan bahwa warga banyak yang bekerja dengan izin dari pelaku usaha tambang untuk meletakkan talang ekor di karpet milik pengusaha.
“Biasanya kami bisa mendapatkan Rp250 ribu per hari saat para pelaku usaha beroperasi. Tapi kalau mereka berhenti bekerja, kami pun tidak mendapat apa-apa,” jelas Midun.
Kondisi ini mencerminkan dilema yang dihadapi masyarakat: di satu sisi, menjaga lingkungan dari kerusakan akibat tambang menjadi keharusan, namun di sisi lain tambang masih menjadi tumpuan hidup banyak warga.








