“Tangisan di Tengah Sawah: Lima Kali Gagal Panen, Petani Buntulia Barat dan Duhiadaa Menjerit Minta Perhatian”

Pressurenews, Buntulia – Biasanya, musim panen adalah saat yang dinanti. Mesin panen berbunyi, karung padi berjejer, wajah petani sumringah meski lelah. Tapi di Buntulia Barat dan Duhiadaa, musim panen kini berubah jadi musim air mata. Lima kali sudah mereka menanam tanpa hasil. Bukan karena malas. Bukan karena lupa bersyukur. Tapi karena mereka lelah menunggu jawaban yang tak kunjung datang.

Petani berdiri memandangi sawah yang kosong. Deru mesin tetap terdengar, tapi karung-karung tetap ringan. Padi tak tumbuh sebagaimana mestinya, dan tanah seperti enggan memberi kehidupan.

> “Kami tidak tahu siapa yang salah, tapi kami sudah terlalu sering kecewa. Ini panen kelima yang gagal. Kami lelah,” curhat salah satu petani lewat unggahan yang dibagikan akun Facebook Eman Lukum. Sabtu 22/05/2025

Di pondok kecil, petani kini berdiskusi bukan tentang musim tanam berikutnya—tapi tentang apakah mereka harus berhenti saja. Mogok tanam. Karena bercocok tanam tanpa hasil, tanpa pendampingan, tanpa kejelasan, terasa seperti dihukum karena berusaha.

Tagar #mohon_solusi #petani_butuh_perhatian dan #butuh_tindakan_dari_pemangku_kebijakan bukan sekadar kata-kata. Itu jeritan. Itu alarm dari perut desa yang selama ini menyiapkan makanan untuk banyak meja.

Pemerintah jangan hanya hadir saat kamera menyala. Hadirlah saat petani mulai kehilangan harapan.
Mereka tak butuh dikasihani—mereka hanya ingin ditemani dan dibantu mencari solusi.

Karena hari ini petani menangis bukan karena hujan. Tapi karena tanah tempat mereka bertahan, seperti tak lagi berpihak.
Dan jika petani berhenti menanam, kita semua harus siap menelan kelaparan yang pelan-pelan mulai tumbuh.

*Yarman Mahabu*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *